Kamis, 20 Desember 2012

POWER, MAYORITAS DAN MINORITAS



-Power : Kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, bahkan ketika orang lain menolak.
Ada 5 macam tipe power :
- Reward Power
- Coercive Power
- Legitimate Power
- Referent Power
- Expert Power
- Informational Power
MINORITAS VS MAYORITAS
1. Konsistensi menentang opini mayoritas à jangan terlihat guncang atau Tercerai-berai.
2. Tidak kaku, tidak dogmatis à pentagram fleksibilitas sudut pandang
3. Perhatikan konteks social yang ada

KONFLIK, RESOLUSI KONFLIK & NEGOSIASI



Pengertian Konflik
Proses di mana orang atau kelompok merasakan bahwa pihak lain melakukan hal-hal tertentu yang berakibat negatif pada kepentingan mereka
Sumber Konflik Dalam Kelompok
Controlling:  Perebutan kekuasaan
Deciding: Konflik Substantif vs. prosedural
•Menyukai dan tidak menyukai: Konflik interpersonal
         Ketertarikan interpersonal menurunkan konflik tetapi mengabaikan konflik yang meningkat
         Konflik dan keberagaman (diversity) dalam kelompok
         Balance theory:  Respon semakin negatif ketika manggota kelompok tidak setuju terhadap orang yang disukainya.
Situasi Psikologis Konflik
Zero-sum conflict
• Kalau satu “menang/untung”, maka yang lain “kalah/rugi”.
• Sepenuhnya bersifat kompetisi
• “Kemenangan lawan adalah kehancuran saya, kekalahan lawan adalah kemenanganku”
Non-zero sumconflict atau mixed motive situation
• Tidak berarti kalau satu “menang/untung”, maka yang lain “kalah/rugi”.
• Kedua pihak bisa “menang/untung”
• Kedua pihak bisa “kalah/rugi”

5 Strategi Resolusi Konflik
1. Menghindar: Mengesampingkan isu atau menolak bahwa ada masalah. Dengan tidak mengkonfrontasikan konflik, anggota berharap masalah hilang dengan sendirinya.
2. Akomodasi: Beberapa anggota tim berusaha bersikap kooperatif untuk mempertahankan relasi
3. Konfrontasi: Bersikap agresif dan berusaha menang dalam konflik. Menang bisa lebih penting daripada menghasilkan keputusan terbaik
4. Kompromi: Satu cara untuk menyeimbangkan keadaan dan menjaga hubungan adalah  agar setiap anggota bersedia sedikit kompromi.
5. Kolaborasi: Kekhawatiran yang ada dibahas dan diupayakan solusi yang bisa memuaskan semua pihak. Butuh rasa kooperatif dan respect.

5 Pendekatan Resolusi Konflik
WIN-LOSE APPROACH è PAKSA
 Warning: Mereka yang kalah selalu mencari jalan untuk membalas
LOSE-LOSE APPROACH è MENGHINDAR
 menghindari  masalah; Penyelesaiannya lebih diserahkan pada nasib.
LOSE-WIN APPROACH è MENGALAH
 berpura-pura segalanya baik dan lancar; kadang memang baik menyesuaikan diri dengan orang lain selama harapan dan kepentingan kita tidak terganggu.
NEUTRAL APPROACH è KOMPROMI
Tidak ada yang benar-benar kalah, tetapi juga tidak ada yang benar-benar menang
WIN-WIN APPROACH è KERJASAMA
menang dua kali: 1) membangun penyelesaian yang dapat diterima; 2) memperbaiki hubungan 
Resolusi Konflik
•Bargaining: Mengupayakan kesepakatan dengan negosiasi langsung antara pihak yang berkonflik
•Mediation : Upaya dari pihak ketiga yang dianggap netral untuk membantu penyelesaian konflik dengan memfasilitasi komunikasi dan menawarkan saran/masukan
•Arbitration : Resolusi  konflik dengan bantuan pihak ketiga yang netral untuk mempelajari kedua belah pihak dan mencarikan kesepakatan

KELOMPOK



Menurut Johnson & Johnson (2000) kelompok terbentuk karena suatu alasan tertentu. Pengertian kelompok sendiri dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, diantaranya pengertian kelompok berdasarkan:
*    Persepsi
Anggota kelompok diterima dengan menekankan kriteria atau ukuran tertentu.
*    Motivasi
Menurut Cattel (dalam Johnson & Johnson, 2000) kelompok adalah kumpulan individu yang dalam hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya.
*    Tujuan
Mills (Johnson & Johnson, 2000) menyatakan bahwa kelompok memiliki definisi, sebagai kelompok kecil yang terdiri dari dua atau lebih individu dalam sebuah hubungan untuk mencapai tujuan dan menganggap bahwa hubungan atau interaksi yang terjadi mempunyai makna.
*    Organisasi
Johnson (2000)  menjelaskan bahwa kelompok adalah suatu sistem yang diorganisasikan pada dua orang atau lebih yang dihubungkan satu dengan lainnya yang menunjukkan fungsi yang sama, memiliki standar peran dalam berhubungan antar anggota dan memiliki norma yang mengatur fungsi kelompok dan setiap anggotanya.
*    Interdependensi
Pengertian kelompok dapat dilihat dari aspek saling ketergantungan (interdependensi). Cartwright dan Zender (dalam Johnson & Johnson, 2000) memaparkan bahwa kelompok adalah sekumpulan individu yang melakukan hubungan dengan orang lain (sesama anggota) yang menunjukkan saling ketergantungan yang cukup signifikan.
*    Interaksi
Kelompok adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua atau lebih individu yang melakukan interaksi satu dengan yang lainnya yang dapat mempengaruhi anggotanya.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa “Kelompok merupakan hubungan interaksi antara dua orang atau lebih yang saling ketergantungan dan memiliki tujuan yang sama.”
Pembentukan kelompok terdiri dari 4 tahapan, diantaranya; forming, storming, norming, performing, dan adjourning dengan penjelasan sebagai berikut:



}      Tahap 1 – Forming
Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok masih cenderung untuk bekerja sendiri dan masih belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan informasi dan mendekatkan diri satu sama lain.
Contoh: dalam suatu acara ospek, para mahasiswa seangkatan belum saling mengenal antara mahasiswa satu dengan yang lain, ketika dibagi kedalam suatu kelompok-kelompok kecil, setiap mahasiswa melakukan suatu perkenalan dan saling menanyakan identitas teman sekelompok.
} Tahap 2 – Storming
Pada tahap ini kelompok sudah mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Anggota kelompok saling terbuka dan mengeluarkan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Sehingga kemungkinan tejadinya konflik.
Contoh : Kelompok kecil mahasiswa ospek yang telah saling mengenal tersebut dihadapkan pada suatu permainan kelompok. Ketika mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permainan tersebut, beberapa anggota telah mulai berani mengungkapkan pendapat. Pendapat yang bervariasi memungkinkan terjadinya konflik.

} Tahap 3 – Norming
Pada tahap ini sudah terdapat kesepakatan antara anggota kelompok. Kelompok mulai menemukan kesesuaian dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelompok.
Contoh: kelompok mahasiswa ospek tersebut mulai saling menentukan jalan keluar mana yang mereka pilih untuk menyelesaikan permainan. Mereka membuat suatu kesepakatan seperti menentukan siapa yang harus memimpin permainan dan siapa yang bekerja menyelesaikan tugas permainan.
} Tahap 4 – Performing
Pada tahap ini, kelompok dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas dengan lancar dan efektif. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lain dan mereka saling respek dalam berkomunikasi.
Contoh: Kelompok mahasiswa ospek yang telah menentukan peraturan dan fungsi anggota memulai mengerjakan permainan sesuai dengan tugas yang telah disepakati.
} Tahap 5 – Adjourning
Ini adalah tahap terakhir dalam kelompok dimana proyek tugas atau pekerjaan berakhir dan kelompok membubarkan diri.
Contoh: kelompok mahasiswa ospek telah menyelesaikan permainan dan ospek telah berakhir. Sehingga mereka membubarkan kelompok mereka.

Dalam sebuah kelompok terdapat struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan sebagian perilaku individu di dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri. Struktur kelompok terdiri dari:
a.    Norma
Norma merupakan standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh para anggota kelompok. Johnson  dan Johnson (2000) menyatakan bahwa norma sebagai keyakinan umum dalam kelompok mengenai perilaku, sikap serta persepsi yang sesuai. Adapun 2 bentuk norma yaitu norma deskriptif dan norma perspektif dimana yang artinya sebagai berikut:
Norma deskriptif merupakan apa yang sering dilakukan, dirasakan, serta dipikirkan oleh orang ketika sedang berada dalam suatu situasi tertentu. Contoh: ketika di jalan tol ada himbauan bagi kendaraan yang berjalan lambat untuk berjalan di bahu kiri dan bagi kendaraan yang ingin mendahului dan melaju cepat untuk berjalan di lajur kanan.
Norma perspektif yang lebih evaluatif, menjelaskan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh individu pada situasi tertentu, dan jika ada yang melanggar akan dinilai negatif. Contoh: perintah membayar pajak untuk para wajib pajak, bagi yang tidak mematuhi akan dikenai sanksi.

b.    Peran
Dalam suatu kelompok masing-masing anggota tentu tidak melakukan hal yang sama dalam mencapai tujuan. Setiap anggota memiliki tugas dan fungsi yang berbeda sesuai dengan harapan. Dengan kata lain, anggota kelompok yang berbeda tentu akan memainkan peran yang berbeda. Contoh: tugas dan tanggung jawab seorang direktur adalah memimpin perusahaan. Tugas karyawan adalah mengikuti perintah atasannya.

Role differentiation
Forsyth (1983) menyatakan bahwa role differentiation adalah perbedaan peran dalam suatu kelompok, misal  menjadi pemimpin, pengikut, atau pengeluh. Dalam suatu kelompok tentulah tidak akan memiliki peran yang sama pada anggotanya. Ada yang berperan sebagai pemimpin sehingga dituntut untuk optimis. Meskipun bukan menjadi jaminan bahwa dengan status tertentu, setiap anggota di asosiakan dengan sifat terrtentu.




Type of roles
Benne dan Sheats (dalam Forsyth, 1983) membagi peran atas:
Task role: anggota kelompok yang melakukan tugasnya untuk mencapai tujuan tertentu pada kelompok tersebut. Misalnya sebagai coordinator, elaborator, energizer, evaluatorcritic, information giver, information seeker, dan opinion seeker.
Sociemotional role: Posisi anggota dalam kelompok untuk mendukung perilaku interpersonal secara akomodatif. Misalnya compromiser, encourager, follower, dan harmonizer.
Individual role : peran  individu yang tidak berkontribusi dengan besar, namun tetap dibutuhkan perannya sebagai penopang kebutuhan kelompok. Misalnya aggressor, block, dominator, dan help seeker.

Role stress
Peran tidaklah semudah yang dibayangkan. Kadang terdapat benturan sehingga menimbulkan konflik dengan anggota kelompok yang lain. Ketika hal ini terjadi peran mereka menjadi kompleks.
Role ambiguity : ekspektasi yang tidak jelas tentang perilaku yang akan dilakukan oleh individu yang menempati posisi dalam kelompok. Sehingga ketika hal ini dirasakan oleh seseorang, maka dia akan kebingungan harus berperan seperti apa dalam kelompok tersebut.
Role conflict : Konflik yang terjadi secara intragroup dan intraindividual yang merupakan hasil dari ketidakcocokan peran. Misalnya ketika seseorang mengalami pergolakan dengan perannya sendiri akibat dari peran oranglain yang tidak sesuai sehingga mengacaukan perannya sendiri. Hal inilah yang dinamakan intrarole conflict. Namun apabila ketidakcocokan antara dua peran sekaligus hal ini dinamakan interrole conflict.
Role conflict group performance: konflik dari peran yang terjadi pada anggota cenderung mengakibatkan konflik pada performa kelompok. Apabila hal ini terjadi maka keberlangsungan kelompok secara tidak langsung akan terancam.